Search

2 Mei 2011

Idris Sardi Sang Maestro

Usianya belum genap enam tahun ketika ia merengek-rengek pada ayahnya untuk diajari bermain biola. M. Sardi ayahnya, masih belum mengacuhkan bakat anaknya. Tetapi, ketika ia mendapat sambutan hangat pada pemunculannya yang pertama bersama konser Akademi Musik Indonesia (AMI) di Gedung Negara Yogyakarta, 1949, M. Sardi baru sadar akan keahlian anaknya. Betapa tidak, Idris kecil yang masih berusia 10 tahun, dengan celana pendek, mempesonakan penontonnya, Usai pergelaran, penonton ramai antre menyalaminya. Di antara yang menyalami, terdapat ayahnya.

Usia delapan tahun, Idris sudah belajar menggesek biola pada Nicolai Vorfolomeyeff, seorang musikus pelarian dari Rusia yang turut memimpin Orkes Radio Jakarta. Sebelumnya pernah belajar pada Tordasi.

Idris yang lahir di Jakarta itu masih kelas III SD ketika Nicolai menerimanya sebagai mahasiswa luar biasa AMI di Yogya. Anak sulung dari delapan bersaudara ini mewarisi seni dari kakek dan kedua orangtuanya. Kakeknya pemain musik di Keraton Yogyakarta, dan sang ayah, selain pemain biola kesohor, menjadi illustrator film Indonesia persis profesi Idris sekarang. Dalam film Rencong Aceh yang juga di bintangi oleh ibunya, Hadidjah, ilustrasi film dikerjakan ayahnya.


Bocah cilik Idris sudah menjadi sangat sibuk ketika menjadi mahasiswa luar biasa AMI. Pagi ke RRI, sekolah, kuliah dan bertugas lagi di RRI pada sore harinya. Ia tidak menikmati kehidupan seperrti anak-anak lainnya, misalnya bermain kelereng.

Ketika M. Sardi meninggal, tahun 1953, Idris menggantikan kedudukan sang ayah sebagai violis pertama merangkap pimpinan Orkes RRI Jakarta, dalam usia 14 tahun. Honornya Rp. 1.400. Ini berarti Rp. 150 lebih tinggi dari honor ayahnya.

Pada tahun 60-an, Idris beralih dari dunia musik biola serius, idolisme Heifetz, ke komersialisasi Helmut Zackarias, yang mengaung-ngaung. Ia lantas dituduh oleh para pengamat musik sebagai Pelacur dari dunia serius.

Tapi ini satu-satunya jalan pada waktu itu untuk tetap hidup pada profesi saya, ujar Idris membela diri. Karena tipe Zackarias-lah yang pada waktu itu bisa laku. Waktu itu, di Indonesia belum ada musik serius yang bisa hidup sehat. Nicolai sendiri pernah mengatakan padanya, “Kamu harus siap kecewa, atau kamu berkelana ke luar negeri”.

Ia hidup berdampingan dengan Ita Zerlyta, kemenakan Bing Slamet, yang dinikahinya April 1968. Pasangan yang menurunkan tiga anak ini akhirnya bubar pada 1981. Idris kemudian menikah dengan Marini, penyanyi cantik yang telah menjanda dua kali. Marini juga membawa tiga anak akhirnya mereka bercerai yang semuannya ikut Idris.

Idris Sardi telah meyelesaikan lebih dari 300 komposisi dan sampai saat ini masih konsisten dalam bermusik serta terus berkarya.

Sumber:

0 komentar:

Posting Komentar